Google+ Followers

16 Maret 2016

MANAJEMEN PRODUKSI DAN OPERASI

BAB I
PENDAHULUAN
Seperti di ketahui manajemen pada dasarnya merupakan proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perencanaan pengorganisasian pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Sejalan dengan itu maka manajemen produksi dan operasi merupakan proses pengambilan keputusan didalam usaha untuk menghasilkan barang atau jasa sehingga dapat sasaran yang berupa tepat waktu, tepat mutu, tepat jumlah dengan biaya yang efisien, oleh karena itu manajemen produksi dan operasi mengkaji pengambilan keputusan dalam fungsi produksi dan operasi.
Pelaksanaan kegiatan manajemen merupakan tanggung jawab seorang manajer diartikan sebagai orang yang bertanggung jawab lebih besar dari pada apa yang dia dapat lakukan sendiri. Sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam mencapai tujuan organisasi, sedangkan manajer produksi dan operasilah yang akan menentukan keberhasilan organisasi perusahaan sebagai produsen yang baik, selanjutnya keberhasilan usaha suatu perusahaan dalam mencapai tujuan dan sasarannya ditentukan oleh kemampuan manajer produksi dan operasi, serta kemampuan manajer pemasaran dan manajer keuangan disamping kemampuan majemen puncak atau direksi untuk menciptakan hasil sinergi dari seluruh kegiatan bersama perusahaan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP MANAJEMEN PRODUKSI DAN OPERASI
2.1.1 Pengertian Produksi Dan Operasi
Istilah produksi dan operasi sering dipakai dalam suatu organisasi yang menghasilkan keluaran output, baik berupa barang maupun jasa. Secara umum produksi diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil keluaran (output). Dengan dasar pengertian itu, di dalam kegiatan menghasilkan barang atau jasa, dapat diukur kemampuan menghasilkan atau transformasinya, yang sering dikenal dengan apa yang disebut dengan produktivitas untuk setiap masukan (input) yang dipergunakan, kecuali bahan.
Dalam arti sempit, pengertian produksi hanya dimaksud sebagai kegiatan yang menghasilkan barang, baik barang jadi, barang setengah jadi, bahan industri, suku cadang, dan komponen. Karena adanya batasan pengertian produksi dalam arti sempit, maka dipergunakanlah istilah produksi dan operasi, sehingga mencakup pembahasan dalam arti luas untuk kegiatan masukan (inputs) menjadi keluaran (output) yang berupa barang atau jasa.
Pengertian produksi dan operasi dalam ekonomi adalah merupakan kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk menciptakan dan menambah kegunaan atau utilitas suatu barang atau jasa. Yang terkait dalam pengertian produksi dan operasi adalah penambahan atau penciptaan kegunaan atau utilitas karena bentuk dan tempat, sehingga membutuhkan faktor-faktor produksi. Dalam ilmu ekonomi faktor-faktor produksi terdiri atas tanah atau alam, modal, tenaga kerja, dan keterampilan manajerial (managerial skills) serta keterampilan teknis dan teknologi.
2.1.2       Pengertian Manajemen Produksi Dan Operasi
Manajemen adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan menggunakan atau mengkordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain. Dalam pengertian ini terdapat tiga unsur penting, yaitu adanya orang lebih dari satu, adanya tujuan yang ingin dicapai, dan orang yang bertanggung jawab akan tercapainya tujuan tersebut.
Manajemen produksi dan operasi merupakan kegiatan untuk mengatur dan mengkordinasikan penggunaan sumber-sumber daya yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alat dan sumber daya dana serta bahan, secara efektif dan efisien, untuk menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang atau jasa. Dari uraian di atas, dapatlah dinyatakan bahwa manajemen produksi dan operasi merupakan proses pencapaian dan pengutilisasian sumber-sumber daya untuk memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang berguna sebagai usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Sasaran dari organisasi itu antara lain adalah untuk mempeoleh tingkat laba tertentu atau memaksimalisasi laba, memberikan pelayanan dengan tingkat pelayanan yang baik, serta berupaya dan berusaha untuk menjamin eksistensi dari organisasi tersebut.
Ada dua permasalahan yang penting dalam peningkatan produktivitas, yaitu: pertama, produktivitas baru meningkat bila terdapat peningkatan kondisi kerja dari kondisi yang kurang baik menjadi kondisi yang lebih baik. Kedua, beberapa hasil peningkatan produktivitas tidak dapat membantu organisasi secara keseluruhan, karena hasil tersebut hanya terkait dengan perbaikan pada bidang tertentu saja, sedangkan bidang yang lainnya mungkin tetap tidak terpengaruh.
Manajer produksi  dan operasi dalam mengatur dan mengkordinasikan penggunaan sumber-sumber daya, perlu membuat keputusan-keputusan yang berhubungan dengan usaha-usaha untuk mencapai tujuan, agar barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan sesuai dan tepat dengan apa yang diharapkan, yaitu tepat mutu (kualitas), tepat jumlah (kuantitas) dan tepat waktu yang direncanakan, serta dengan biaya yang rendah.
2.1.3       Pengambilan Keputusan Dalam Manajemen Produksi Dan Operasi
Pengambilan keputusan dimaksudkan untuk memudahkan proses pemilihan alternatif atau penggunaan peralatan analisis, bagi penentuan keputusan, sehingga dapat diketahui bagaimana keputusan-keputusan yang rasional harus diambil, dan dengan demikian dapat ditentukan dan disusun rencana-rencana logis dari keputusan-keputusan yang diambil atas dasar peralatan ilmu pengetahuan dan matematika atau analisis kuantitatif serta kenyataan yang terjadi.
Dilihat dari kondisi atau keadaan dari keputusan yang harus diambil, maka terdapat empat macam pengambilan keputusan, yaitu:
a.    Pengambilan keputusan atas peristiwa yang pasti
b.   Pengambilan keputusan atas peristiwa yang mengandung resiko
c.    Pengambilan keputusan atas peristiwa yang tidak pasti (uncertainly)
d.   Pengambilan keputusan atas peristiwa yang timbul karena pertentangan dengan keadaan lain.
Dalam kerangka kerja pengambilan keputusan, bidang produksi dan operasi mempunyai lima tanggung jawab keputusan utama, yaitu: proses, kapasitas, persediaan, tenaga kerja, dan mutu atau kualitas. Masing-masing kerangka tanggung jawab keputusan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a.    Proses
Keputusan-keputusan dalam kategori ini menentukan proses fisik atau fasilitas yang digunakan untuk memproduksikan produk berupa barang atau jasa. Keputusan mencakup jenis peralatan dan teknologi, arus dari proses, tata letak (lay out) dari peralatan dan seluruh aspek dari fisik pabrik atau fasilitas jasa pelayanan. Banyak keputusan tentang proses ini merupakan keputusan jangka panjang dan tidak dapat dengan mudah diubah atau direvisi.
b.   Kapasitas
Keputusan kapasitas dimaksudkan untuk memberikan besarnya jumlah kapasitas yang tepat dan penyedian pada waktu yang tepat.
c.    Persediaan
Manajer persediaan membuat keputusan-keputusan dalam bidang produksi dan operasi, mengenai apa yang dipesan, berapa banyak yang dipesan, dan kapan pemesanan dilakukan.
d.   Tenaga kerja
Dalam menajemen produksi dan operasi, pengelolaan tenaga kerja atau sumber daya manusia merupakan bidang keputusan yang sangat penting. Hal ini karena tidak akan terjadi proses produksi dan operasi tanpa adanya orang atau tenaga kerja yang mengerjakan.
e.    Mutu atau kualitas
Fungsi produksi dan operasi ditandai dengan penekanan tanggung jawab yang lebih besar terhadap mutu atau kuliatas dari barang atau jasa yang dihasilkan.
2.1.4       Ruang Lingkup Manajemen Produksi Dan Operasi
Manajemen Produksi dan operasi seprti yang telah dibahas pada oint sebelumnya setidaknya mengajarkan kita bagaimana utuk mencapai suatu tujuan dengan perencanaan dan keberhasilan rencana yang telah kita rancang. Untuk itu, dalam manajemen produksi dan operasi terdapat:
a.    Seleksi dan rancangan atau desain hasil produksi.
b.   Seleksi dan perancangan proses dan peralatan.
c.    Pemilihan lokasi dan site perusahaan dan unit produksi.
d.   Rancangan tata letak (layout) dan arus kerja atau proses.
e.    Strategi produksi dan operasi serta pemilihan kapasitas.
Penambahan dalam pengoperasian sistem produksi dan operasi akan mencakup:
a.    Penyusunan rencana produksi dan operasi.
b.   Perencanaan dan pengendalian persediaan dan pengadaan bahan.
c.    Pemeliharaan atau perawatan (maintenance) mesin dan peralatan.
d.   Pengendalian mutu.
e.    Manajemen tenaga kerja (Sumber Daya Manusia)
2.2    PERKEMBANGAN MANAJEMEN PRODUKSI DAN OPERASI
2.2.1       Sejarah
Orang pertama yang memberikan perhatian terhadap cara berproduksi efisien adalah Adam Smith, dengan menulis buku The Wealth of Nations (1776). Adam Smith mengemukakan keuntungan dari adanya pembagian kerja (division of labor), yaitu: 
1.     Bertambahnya kecakapan atau ketrampilan seseorang apabila orang itu mengerjakan pekerjaan secara beruang ulang, 
2.     Diperoleh penghematan waktu, karena sering bergantinya pekerjaan dari pekerjaan satu ke pekerjaan yang lain, 
3.     Ditemukannya mesin-mesin spesialisasi yang hanya mengerjakan satu macam pekerjaan saja dalam suatu rangkaian pekerjaan.
Pada masa ini kemudian terjadi perubahan sistem produksi, dari sistem produksi rumahan menuju sistem produksi dengan mesin, misalnya ditemukannya alat pintal, alat tenun, dan mesin uap. Perkembangan produksi menjadi semakin maju dari berkembangnya pabrik-pabrik, kemudian diikuti dengan perkembangan tenaga kerja.
Eli Whitney (1880) dikenal sebagai orang pertama yang mempopulerkan komponen yang dapat dibongkar pasang, yang didapat melalui standardisasi dan pengendalian mutu.  Ia berhasil memenangkan kontrak pemerintah Amerika Serikat untuk 10.000 pucuk senjata, yang dijual dengan harga tinggi karena senjata tersebut dibongkar pasang.
Pada 1852, Charles Babbage mengemukakan pendapat bahwa pada proses produksi barang terdapat kegiatan yang tidak ekonomis dalam hal pemakaian mesin-mesin dan tenaga manusia, pada bukunya On the Economy of Machinery and Manufacturers. Pada masa ini sistem produksi diharapkan ekonomis sehingga tidak terjadi pemborosan faktor produksi.
Disusul kemudian oleh FW Taylor tahun 1881 dengan mengemukakan "metode kerja dengan pembagian gerak dan waktu secara minimum atau dikenal dengan time and motions study. FW Taylor mengemukakan empat tugas pokok manajemen, yaitu: 
1.     Mengganti metode rule of thumb (metode yang tidak berdasar ilmu) dengan    metode    ilmiah    yang    disebut    motions    study    untuk memperhatikan gerak minimum, sehingga diperoleh hasil maksimum. 
2.     Manajer harus mengadakan seleksi dan pelatihan terhadap buruh atau tenaga kerja secara ilmiah serta menghilangkan sifat individualis diantara para pekerja. 
3.     Mengembangkan   semangat   kerjasama   yang   erat   antara   buruh, pegawai, dan manajer. 
4.     Mengadakan pembagian kerja secara jelas antara buruh dan majikan, sehingga jelas pembagian tugas dan tanggung jawabnya.
Tahun 1913, Henry Ford dan Charles Sorensen memadukan pengetahuan mereka terhadap komponen yang distandardisasi dengan lini produksi semu pada proses pengepakan daging dan industri mail order, dan juga menambahkan konsep baru pada lini produksi, dimana para pekerja berdiri sementara bahan bergerak.  Carles Sonersen menderek sasis mobil pada sebuah tambang di bahunya melintasi lini produksi di pabrik Foord, saat yang lainnya menambahkan komponen pada mobil tersebut.
Pengendalian mutu juga berperan besar dalam sejarah manajemen operasi. Walter shewhart tahun 1924 memadukan pengetahuan statistiknya dengan kebutuhan akan pengendalian mutu dan menemukan dasar-dasar perhitungan statistik dan pengambilan sampel untuk mengendalikan mutu. Perkembangan manajemen operasi dilanjutkan kemudian dengan munculnya revolusi industri Pada masa ini, terjadi perkembangan-perkembangan yang mengarah ke persaingan hebat dalam bidang hasil produksi. Para penguasa mulai memikirkan arti pentingnya ramalan permintaan, peningkatan mutu produk dan forecasting sebagai dampak lanjut dari kemajuan niaga dan politik pemasaran.
Arah kegiatan produksi berpandangan pada:
1.     Mencari pasar yang strategis 
2.     Mengembangkan fasilitas produksi dengan perkembangan teknologi 
3.     Mempromosikan hasil-hasil produksi.
Pada sesudah dan teriadi depresi, tahun 1930, perkembangan manajemen operasi mengarah ke penggunaan Scientific Management, ditandai oleh pengenalan dan pengembangan Statistical Quality oleh Walter Stewart, tahun 1931, dan pengembangan Work Sampling oleh DHC Tippet, tahun 1934, yang menemukan prosedur sampling untuk mengetahui standar atas kelambatan proses produksi, waktu kerja, yang dikenal dengan standard of delays.
W. Edwards Deming (1950) dan Frederick Taylor berpendapat bahwa manajemen harus berbuat lebih banyak untuk memperbaiki lingkungan kerja dan proses agar mutu menjadi lebih baik. Manajemen operasi terus berkembang dengan adanya sumbangan dari ilmu lain, termasuk teknik industri dan management science.  Ilmu ini seiring dengan statistik juga manajemen dan ilmu ekonomi telah berkontribusi pada peningkatan produktivitas.
Setelah Perang Dunia II, perkembangan manajemen operasi menjadi semakin cepat, ditandai dengan ditemukannya metode Linear Programming, Waiting Line Theory, yang dikembangkan dalam analisa industri, serta mulai digunakannya komputer dalam desain-desain system operasi seperti Computer Aided Design, dan Computer Models for Operating Management.
Kontribusi terpenting bagi manajemen operasi adalah dari ilmu informatika, yang didefinisikan oleh Jay Heizer dan Barry Render sebagai proses sistematis yang dilakukan pada data untuk mendapatkan informasi.  Ilmu informatika, internet, dan e-commerce memberikan sumbangan dalam peningkatan produktivitas dan menyajikan barang dan jasa yang lebih bervariasi pada masyarakat.
2.2.2       Faktor Pesatnya perkembangan Manajemen Produksi dan Operasi
Pesatnya perkembangan manajemen produksi dan operasi disebabkan antara lain oleh faktor di bawah ini:
1.     Adanya pembagian kerja dan spesialisasi.
2.     Revolusi industri
3.     Perkembangan alat dan tekhnologi yang mencakup standardisasi parts dan komponen serta penggunaan komputer.
4.     Perkembangan ilmu dan metode kerja yang mencakup ilmiah , hubungan antar manusia dan model keputusan.
2.2.3       Perkembangan Ilmu dan Metode bagi Manajemen Menurut Taylor
1.     Manajemen harus mengganti metode coba-coba yang berdasarkan ilmu dan ngawur.
2.     Manajemen harus mengadakan pemilihan dan harus melatih serta mengembangka pekerja atau buruh secara ilmiah.
3.     Manajemen harus mengembangkan semangat kerjasama yang erat antara pekerja, buruh dan pegawai.
4.     Menejemen harus mengadakan pembagian kerja antara kaum buruh atau pekerja dengan majikan atau manager.
2.3    FUNGSI DAN SISTEM PRODUKSI DAN OPERASI
Manajemen Produksi dan Operasi tidak hanya manajemen pabrik manufaktur. Dalam pembahasan Manajemen Produksi dan Operasi, di samping menyangkut pembahasan organisasi pabrik manufaktur, juga menyangkut pembahasan organisasi jasa, seperti perbankan, rumah sakit dan jasa transportasi. Perusahaan atau organisasi jasa, pertumbuhannya sangat pesat, dan dari hasil-hasil penemuan dapatlah diketahui bahwa teknik-teknik Manajemen Produksi dan Operasi dapat dipergunakan secara efektif untuk mengurangi biaya dan memperbaiki hasil jasa yang ditawarkan atau dijual. Dalam kegiatan produksi dan operasi tercakup seluruh proses yang mengubah masukan (inputs) dan menggunakan sumber-sumber daya untuk menghasilkan keluaran (output) yang berupa barang atau jasa.
Dalam suatu kegiatan produksi dan operasi, Manajer Produksi dan Operasi harus mampu membina dan mengendalikan arus masukan (inputs) dan keluaran (output), serta mengelola penggunaan sumber-sumber daya yang dimiliki. Agar kegiatan dan fungsi produksi dan operasi dapat lebih efektif, maka para manajer harus mampu mendeteksi masalah-masalah penting serta mampu mengendalikan dan mengawai sumber-sumber daya yang sangat terbatas. Manajer produksi dan operasi harus dapat merencanakan secara efektif penggunaan sumber-sumber daya yang sangat terbatas, memperkirakan dampak pada sasaran dan mengorganisasikan pengimplementasian dari rencana. Berdasarkan rencana yang disusun maka keputusan-keputusan yang lebih terinci harus dibuat, seperti besarnya partai (batch) dari produk untuk macam-macam yang berbeda, waktu-waktu lembur dan variabel-variabel tenaga kerja yang lain, prosedur pengendalian mutu, pemesanan bahan dan banyak prosedur-prosedur lain yang harus diterapkan atau diimplementasikan. Rencana tidak harus selalu diikuti ketidak tepatan peramalan atau prakiraan penjualan serta banyak alasan-alasan lain.
Manajer produksi dan operasi membuat keputusan-keputusan mengenai fungsi produksi dan operasi, serta sistem transformasi yang dipergunakan. Dari uraian ini terdapat tiga pengertian yang penting mendukung pelaksanaan kegiatan Manajemen Produksi dan Operasi yaitu fungsi, sistem dan keputusan.
Pertama, mengenai fungsi dapatlah dinyatakan bahwa manajer produksi dan operasi bertanggung jawab untuk mengelola bagian atau fungsi dalam organisasi yang menghasilkan barang atau jasa. Jadi istilah produksi dan operasi dipergunakan untuk menunjukkan fungsi yang menghasilkan barang atau jasa. Sehingga produksi atau operasi sama halnya dengan pemasaran dan keuangan atau pembelanjaan sebagai salah satu fungsi organisasi perusahaan dan merupakan salah satu fungsi bisnis.
Kedua, mengenai sistem, dalam hal ini terkait dengan perumusan sistem transformasi yang menghasilkan barang atau jasa. Pengertian sistem ini tidak hanya pada pemahaman produksi dan operasinya, tetapi yang lebih penting lagi adalah sebagai dasar untuk perancangan dan penganalisisan operasi produksi, yang terdapat dalam proses pengkonversian di dalam persahaan. Dalam hal kita berbicara tentang sistem keseluruhan dalam perusahaan, dimana terkait dengan bidang-bidang fungsi lain diluar produksi dan operasi.
Akhirnya, tentang keputusan, dimana unsur yang terpenting di dalam manajemen prosuksi dan operasi adalah pengambilan keputusan. Oleh karena seluruh manajer bertugas dan tidak terlepas dengan hal pengambilan keputusan, maka penekanan utama dalam pembahasan manajemen produksi dan operasi adalah proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dalam manajemen produksi dan operasi, terdapat di dalam proses, kapasitas, persediaan, tenaga kerja dan mutu.
Ada empat fungsi terpenting dalam fungsi produksi dan operasi adalah :
1.     Proses pengolahan, merupakan metode atau teknik yang digunakan untuk pengolalahan masukan (inputs)
2.     Jasa-jasa penunjang, merupakan saran yang berupa pengorganisasian yang perlu untuk penetapan teknik dan metode yang akan dijalankan, sehingga proses pengolahan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
3.     Perencanaan, merupakan penetapan keterkaitan dan pengorganisasian dari kegiatan produksi dan operasi yang akan dilakukan dalam suatu dasar waktu atau periode tertentu
4.     Pengendalian atau pengawasan, merupakan fungsi untuk menjamin terlasananya kegiatan sesuai dengan yang direncanakan, sehingga maksud dan tujuan untuk pengunaan dan pengolahan masukan (inputs) pada kenyataannya dapat dilaksanakan.
2.4    PERAMALAN (FORECASTING)
Peramalan adalah proses untuk memperkirakan beberapa kebutuhan dimasa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa. Selain itu peramalan juga didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan pengambilan data masa lalu dan menempatkannya ke masa yang akan datang dengan suatu bentuk model matematis. Bisa juga merupakan prediksi intuisi yang bersifat subjektif. Atau bias juga dengan menggunakan kombinasi model matematis yang disesuaikan dengan pertimbangan yang baik dari seorang manajer.
Peramalan (forecasting) merupakan alat bantu yang penting dalam perencanaan yang efektif dan efisien khususnya dalam bidang ekonomi. Peramalan mempunyai peranan langsung pada peristiwa eksternal yang pada umumnya berada di luar kendali manajemen seperti: ekonomi, pelanggan, pesaing, pemerintah dan lain sebagainya.
Peramalan permintaan memegang peranan penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan khususnya dibidang produksi. Aktivitas manajemen operasi menggunakan peramalan permintaan dalam perencanaan yang menyangkut skedul produksi, perencanaan pemenuhan kebutuhan bahan, perencanaan kebutuhan tenaga kerja, perencanaan kapasitas produksi, perencanaan layout fasilitas, penentuan lokasi, pemenuhan metode proses, penentuan jumlah mesin, desain aliran bahan dan lain sebagainya. Peranan ini disebabkan adanya tenggang waktu antara suatu peristiwa dengan kebutuhan mendatang.
Walaupun terdapat banyak bidang lain yang memerlukan peramalan permintaan, namun aktivitas manajemen operasi di atas merupakan bentuk khas dari keperluan peramalan permintaan baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
Perusahaan perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang meliputi:
1.     Identifikasi dan definisi masalah peramalan
2.     Aplikasi metode peramalan
3.     Pemilihan metode peramalan yang tepat untuk situasi tertentu
4.     Dukungan manajemen untuk menggunakan metode peramalan tertentu
Peramalan tidak terlalu dibutuhkan dalam kondisi permintaan pasar yang stabil, karena perubahan permintaannya relatif kecil. Tetapi peramalan akan sangat dibutuhkan bila kondisi permintaan pasar bersifat kompleks dan dinamis. Hanya sedikit bisnis yang dapat menghindari proses peramalan dan hanya menunggu apa yang terjadi untuk kemudian mengambil kesempatan. Perencanaan yang efektif baik untuk jangka panjang maupun bergantung pada peramalan permintaan untuk produk perusahaan tersebut.
Peramalan biasanya diklasifikasikan berdasarkan horizon waktu masa depan yang dicakupnya. Horison waktu teragi atas beberapa kategori :
1.     Peramalan jangka pendek, peramalan ini mencakup jangka waktu hingga 1 tahun tetapi umumnya kurang dari  bulan. Peramalan ini dugunakan untuk merencanakan pembelian, penjadwalan kerja, penugasan kerja dan tingkat produksi.
2.     Peramalan jangka menengah, umumnya mencakup hitungan bulanan hingga  3 tahun. Peramalan ini berguna untuk merencanakan penjualan, perencanaan dan anggaran produksi, anggaran kas, dan menganalisis bermacam-macam rencana operasi.
3.     Peramalan jangka panjang, umumnya untuk perencanan masa  3 tahun atau lebih. Peramalan jangka panjang digunakan untuk merencanakan produk baru, pembelanjaan modal, lokasi atau pengembangan fasilitas, serta penelitian dan pengembangan.
Peramalan jangka menengah dan jangka panjang dapat di bedakan dari peramalan jangka pendek dengan melihat tiga hal :
1.     Jangka menengah dan jangka panjang berkaian dengan permasalahan yang lebih menyeluruh dan mendukung keputuan manajemen yang berkaitan dengan perencanaan produk, pabrik dan proses. Misalnya keputusanakan fasilitas parik seperti membuka pabrik atau gedung baru.
2.     Peramalan jangka pendek biasanya menerapkan metodologi yang berbeda di bandingkan peramalan jangka panjang.
3.     Peramalan jangka pendek cenderung lebih tepat dibandingkan peramalan jangka panjang. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan permintaan berubah setiap hari. Dengan demikian, sejalan dengan semakin panjangnya horizon waktu, ketepatan peramalan seseorang cenderung semakin berkurang. Peramalan penjualan harus diperbaharui secara berkala untuk menjaga nilai dan integritasnya. Peramalan harus selalu dikaji ulang dan direvisi pada setiap akhir periode penjualan.
Faktor lain yang harus dipertimbangkan saat membuat ramalan penjualan, terutama peramalan penjualan jangka panjang adalah siklus hidup produk. Penjualan produk dan bahkan jasa, tidak terjadi pada tingkat yang konstan sepanjang hidupnya. Hampir semua produk yang berhasil melalui empat tahapan : Perkenalan, pertumbuhan, kematangan dan penurunan.
2.4.1       Jenis Peramalan
Organisasi pada umumnya menggunakan tiga tipe peramalan yang utama dalam perencanaan operasi di masa depan :
1.     Peramalan Ekonomi (economic forecast) menjelaskan siklus bisnis dengan memprediksi tingkat inflasi, ketersediaan uang, dana yang dibutuhkan untuk membangun perumahan dan indicator perencanaan lainnya.
2.     Peramalan Terknologi (technological forecast) memperhatikan tingkat kemajuan teknologi yang dapat meluncurkan produk baru yang menarik, yang membutuhkan pabrik dan peralatan baru.
3.     Peramalan Permintaan (demand forecast) adalah proyeksi permintaan untuk produk atau layanan suatu perusahaan. Peramalan ini disebut juga peramalan penjualan, yang mengendalikan produksi, kapasitas, serta sistem penjadwalan dan menjadi input bagi perencanaan keuangan, pemasaran dan sumber daya manusia.
Peramalan yang baik sagat penting dalam semua aspek bisnis : peramalan merupakan satu-satunya prediksi atas permintaan hingga permintaan yang sebenarnya diketahui. Peramalan permintaan mengendalikan keputusan dibanyak bidang. Berikut ini akan diahasa dampak peramalan produk pada tiga aktivitas :
1.     Sumber Daya Manusia
Mempekerjakan, melatih dan memberhentikan pekerja, semua tergantung pada permintaan. Jika departemen sumber daya manusia harus mempekerjakan pekerja tambahan tanpa adanya persiapan, akiatnya kualitas pelatihan menurun dan kualitas pekerja juga menurun.
2.     Kapasitas
Saat kapasitas tidak mencukupi, kekurangan yang diakibatkannya bisa berarti tidak terjaminnyapengiriman, kehilangan konsumen dan kehilangan pangsa pasar.
3.     Manajemen Rantai Pasokan
Hubungan yang baik dengan pemasok dan harga barang dan komponen yang bersaing, bergantung pada peramalan yang akurat. Sebagai contoh, manufaktur pembuat mobil yang menginginkan TRW Corp. menjamin keteresediaan kantung udara yang cukup, harus menyediakan ramalan yang akurat untuk membenarkan ekspansi pabrik TRW.
2.5     PENENTUAN LOKASI SUATU PABRIK
Tujuan penentuan lokasi suatu pabrik dengan tepat ialah untuk dapat membantu pabrik beroperasi atau berproduksi dengan lancar, efektif dan efisien. Dengan adanya penentuan lokasi suatu pabrik yang tepat atau baik akan menentukan :
1.     Kemampuan melayani konsumen dengan memuaskan
2.     Mendapatkan bahan-bahan mentah yang cukup dan kontinue dengan harga yang layak / memuaskan.
3.     Mendapatkan tenaga buruh yang cukup.
4.     Memungkinkan diadakannya perluasan pabrik dikemudian hari.
Adapun yang menjadi masalah dalam plant location ini adalah :
1.     Karena berubahnya adat kebiasaan masyarakat.
2.     Dengan berpindahnya pusat-pusat penduduk dan perdagangan
3.     Adanya jaringan komunikasi dan pengangkutan yang lebih baik.
2.5.1       Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi pabrik
1.   Faktor-faktor utama / primer (Primary Factors)
a.      Letak dari pasar
b.     Letak dari sumber-sumber bahan mentah
c.      Terdapatnya fasilitas pengangkutan
d.     Supply dari buruh atau tenaga kerja yang tersedia
e.      Terdapatnya pembangkit tenaga listrik (power station)
2.   Faktor-faktor skunder (Scondary Factors)
a.      Rencana masa depan
b.     Biaya dari tanah dan gedung, terutama dlam hubungannya dengan rencana masa depan
c.      Kemungkinan perluasan
d.     Terdapatnya fasilitas service
e.      Terdapatnya fasilitas pembelanjaan
f.      Water supply (persediaan air)
g.     Tinggi rendahnya pajak dan undang-undang perburuhan
h.     Masyarakat di daerah itu (sikap, besar dan keamanan)
i.       Iklim
j.       Tanah
k.     Perumahan yang ada dan fasilitas-fasilitas lainnya
2.5.2       Tahap-tahap yang dapat dilakukan dalam memilih lokasi suatu pabrik
Ada 3 tahap yang dapat dilakukan dalam memilih lokasi suatu pabrik, yaitu:
1.     Melihat kemungkinan daerah-daerah mana yang dapat ditentukan sebagai daerah-daerah alternatif dengan melihat ketentuan dari pemerintah daerah setempat mengenai daerah-daerah mana yang diperkenankan untuk mendirikan pabrik tertentu. Dalam hal ini pemerintah daerah setempat perlu dihubungi untuk mendapatkan informasi kemungkinan-kemungkinan daerah yang dapat dipilih.
2.     Melihat pengalaman orang lain atau pengalaman kita sendiri dalam menentukan lokasi pabrik. Dalam hal ini jenis barang hasil produksi dan proses pengerjaanya selalu akan menentukan kekhususan pabrik tersebut, seperti mengenai lokasi, powernya, transportasinya serta faktor-faktor lain yang dianggap penting.
3.     Mempertimbangkan dan menilai masyarakat-masyarakat dari daerah-daerah yang ada pada tahap kedua telah dipilih untuk daerah lokasi pabrik karena dianggap paling menguntungkan.
2.6     PERENCANAAN BANGUNAN PABRIK (Planning The Building)
2.6.1       Economic Factors' yang dapat mempengaruhi pembuatan bangunan.
Suatu bangunan yang direncanakan secara baik akan memberikan banyak keuntungan. Sebagai contoh suatu bangunan yang mempunyai design dan perencanaan yang baik akan dapat membantu mengurangi biaya pengolahan dengan jalan :
1.     Mengurangi work in process inventory
2.     Menekan biaya pemindahan bahan-bahan (material handling cost)
3.     Menakan biaya-biaya penyimpanan
4.     Mengurangi waktu pengerjaan (manufacturing cycle time)
5.     Menyederhanakan prosedur pengawasan atas pengolahan dan pegawai
6.     Mengurangi biaya pemeliharaan pabrik
7.     Mengurangi kemacetan-kemacetan dan gangguan-gangguan atas pekerjaan
8.     Memperbesar fleksibilitas dan kegunaan dari suatu pabrik
9.     Mengurangi upah dan biaya-biaya untuk melatih buruh
10.  Memperbesar kesenangan kerja dan mempertinggi moril para pekerja serta mengurangi turn over buruh. 
2.6.2       Jenis-jenis bangunan
Pada dasarnya sebagian besar dari bangunan-bangunan industri dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.     Gedung yang tidak bertingkat dengan pelbagai macam susunan / bentuk atap (single story).
2.     High bay and monitor types
3.     Gedung yang bertingkat (multy story)
4.     Gedung dengan bentuk-bentuk khusus / tertentu (special types)
2.6.3       Jenis-jenis konstruksi
            Banyak jenis-jenis konstruksi (types of construktion) yang terdapat pada gedung / bangunan pada dewasa ini, terutama dalam gedung / bangunan untuk industri seperti dengan digunakannya kerangka-kerangka kayu, batu bata dan kerangka-kerangka baja.
2.6.4       Pertimbangan-pertimbangan dalam pembuatan design bangunan (design building)
Adapun pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan design bangunan adalah :
1.     Fleksibilitas
2.     Kemungkinan perluasan / ekspansi
3.     Fasilitas bagi para karyawan / pegawai
4.     Fasilitas bagi kendaraan maupun tempat-tempat lain seperti istirahat pekerja, kamar kecil (WC), cafetaria dan sebagainya.
5.     Perlindungan terhadap bahaya kebakaran dan keamanan pekerja.
6.     Hal-hal yang dapat merusak kesehatan
7.     Kekuatan dan kapasitas lantai
8.     Hal-hal lain
2.7     PENYUSUNAN PERALATAN PABRIK (Plant Lay Out)
Plant lay out adalah fase yang termasuk dalam design dari suatu sistem produksi. Tujuan daripada lay out adalah untuk memperkembangkan sistem produksi sehingga dapat mencapai kebutuhan kapasitas dan kwalitas dengan rencana yang paling ekonomis.
Lay out yang baik dapat diartikan sebagai penyusunan yang teratur dan effisien semua fasilitas-fasilitas pabrik dan buruh yang ada dalam pabrik. Plant lay out yang baik dapat membantu kita dalam produksi, dimana dengan penempatan fasilitas yang baik maka material handling dan material movement dapat ditekan sedikit mungkin sehingga menurunkan cost yang berarti perusahaan lebih efisien.
2.7.1       Tujuan lay out yang baik
1.     Mengurangi jarak pengangkutan material dan produk yang telah jadi sehingga mengurangi material handling
2.     Memperhatikan frekwensi arus pekerjaan
3.     Mengurangi ongkos produksi, karena cost ditekan seminimum mungkin.
4.     Mempertinggi keselamatan kerja sehingga kemanan bekerja semakin terjamin
5.     Memberikan hasil produksi yang baik
6.     Memberikan service yang baik bagi konsumen
7.     Memperbaiki moral pekerja
8.     Mengurangi delays (kelambatan) dalam pekerjaan
2.7.2       Cara-cara pengaturan dari pada lay out
Ada 2 cara pengaturan lay out yang dipakai yaitu :
1.     Atas dasar proses
2.     Atas dasar arus atau flow
Oleh karena itu, ada 2 pola lay out yang utama, yaitu :
1.     Proses lay out
Dalam proses lay out semua mesin-mesin dan peralatan yang sama dikelompokkan dalam suatu area yang sama. Jadi hanya terdapat satu jenis proses disetiap bagian.
Keuntungan dari proses lay out adalah :
a.      Investasi yang lebih rendah di dalam equipment (mesin-mesin), karena dalam proses lay outlebih memungkinakan untuk menggunakan mesin pada tingkat penggunaan yang cukup tinggi karena mengerjakan satu jenis pekerjaan saja.
b.     Sangat flexsible, karena mesinnya general purpose machine, sehingga dapat mengikuti dengan cepat perubahan dari satu jenis produk.
c.      Manufacturing cost biasanya lebih rendah.
Kerugian dari proses lay out adalah :
a.      Material handling dan material transportation cost tinggi karena biasanya di sini kita tidak bisa menggunakan ban berjalan atau mesin-mesin otomatis.
b.     Kordinasi dan pengawasan sukar
2.     Product lay out
Product lay out adalah dimana msin-mesin dan fasilitas manufacturing yang lain diatur menurut urutan-urutan dari proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk.
Keuntungan-keuntungan dari product lay out adalah:
a.      Dapat digunakannya alat-alat yang otomatis.
b.     Dapat digunakannya ban berjalan
c.      Inspeksi yang diperlukan lebih sedikit
d.     Kebutuhan material dapat dijadwalkan lebih tepat.
Sedangkan kerugian dari product lay out adalah :
a.      Pekerjaan mudah berhenti
b.     Karena sifatnya tidak flexsible maka kalau terjadi perubahan-perubahan akan memakan biaya yang besar.
c.      Tingkat produksinya sudah fixed.
d.     Sifat pekerjaan adalah satu irama saja sehingga dapat membosankan, maka efisiensi pekerja akan menurun.
e.      Investasinya tinggi
2.8     PENERANGAN, SUARA RIBUT DAN UDARA DALAM PABRIK
2.8.1       Penerangan (Lighting) pabrik
Adapun keuntungan-keuntungan dari adanya penerangan yang baik adalah:
1.     Menaikkan produksi dan menekan biaya
2.     Meningkatkan pemeliharaan gedung dan kebersihan pabrik
3.     Mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi
4.     Memudahlkan pengamatan / pengawasan
5.     Memperbaiki moril para pekerja
6.     Lebih mudah untuk melihat
Hubungan produktivitas dengan penerangan adalah:
1.     Bila terdapat penerangan yang cukup akan memberikan pertambahan produksi
2.     Pabrik texstil memperoleh pertambahan out put sebesar 9% dan mengurangi biaya perbaikan sebesar 33%.
Ciri-ciri penerangan yang baik adalah :
1.     Sinar / cahaya yang cukup
2.     Sinar yang tidak berkilauan atau menyilaukan
3.     Tidak terdapat kontras yang tajam
4.     Cahaya terang
5.     Distribusi cahaya yang merata
6.     Warna yang sesuai
Sumber-sumber penerangan yang digunakan :
1.     Lampu pijar / listrik biasa
2.     Lampu mercury
3.     Lampu neon
2.8.2       Suara ribut
Bunyi ribut ini perlu dipertimbangkan karena mengganggu kesenangan kerja, merusak pendengaran pekerja dan menimbulkan komunikasi yang salah.
1.   Pengukuran suara atau bunyi ribut
Kemampuan telinga untuk mendengar secara ekstrim berkisar antara 7 sampai 20.000 cycles / detik getar suara. Suatu ukuran yang digunakan untuk mengukur suara adalah bel atau decibel. 1 decibel = 1/10 bel. Decibel adalah suatu istilah yang relatip digunakan untuk menyatakan suatu logaritma dari pada perbandingan antara 2 kekuatan suara / bunyi yaitu intensitas atau tekanannya.
2.       Pengaturan suara
Tujuan dari pada pengendalian suara atau bunyi di samping untuk menghemat uang yang dikeluarkan untuk pengaturan ini adalah untuk menjaga agar pendengaran buruh / pekerja tetap baik.
2.8.3       Udara dalam pabrik
Salah satu sistem yang penting dalam hal ini adalah air conditioning (AC).
1.     AC (Air Conditioning)
AC tidak mendinginkan udara tapi dengan suatu sistem juga digunakan untuk mengontrol temperatur, kelembaban udara dan kebersihannya.
Alasan perusahaan memasang AC system dan memperhatikan kondisi pekerja, yaitu karena ruang kerja yang baik akan memberikan kemungkinan :
a.      Memperbesar hasil (out put)
b.     Memperbaiki kwalitas pekerjaan dan kecakapan bekerja dari karyawan
c.      Menambah kebersihan pabrik
d.     Mengurangi biaya pemeliharaan
e.      Mengurangi turn over buruh
f.      Mengurangi pemborosan
g.     Merupakan daya tarik untuk bekerja lebih baik
2.     Pemanasan (Heating)
Untuk pemanasan dalam pabrik, banyak pabrik yang menggunakan unit pemanasan dari langit-langit (ceiling) pabrik yang terdiri dari sirkulasi (lingkaran pemanas) dengan gas, elektrik, air atau uap dengan suatu blower untuk mempengaruhi sirkulasi udara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar anda di sini.